Selamat Datang Di BLOG Saya :)

Senin, 25 Juni 2012

4 KOPIAH

Karya Faqih Sulthan

Gema tahlil muazin membahana ke seluruh rimba muria, pertanda mega merah telah tiada. Sebagai masjid yang diapit empat asrama di setiap mata anginnya. Bukan hal yang aneh jika masjid seolah dikrumuni jutaan santri.

Sejak takbiratulikrom tertunaikan, udara dingin yang menyusup kedalam masjid membuat cengkramanku semakin kencang. Hal serupa nampaknya juga dirasakan seluruh santri disolat isyak kala itu.
Takbir, rukuk dan sujud sudah menjadi irama rohani, semenjak aku berada di ma’had ini empat tahun silam. Wajah-wajah pucat kami saling menyapa ke kanan dan ke kiri, jemari kami terhitung tertib bersama lafat-lafat dzikir yang keluar dari bibir kami.

Usai sholat ba’diyah, terdengar dari sound usang masjid berisi pemanggilan nama-nama santri yang terjerat pelanggaran. Dari shof paling depan berdiri Takim, santri dari asrama selatan. Santri yang satu ini terkenal gemar mengotak-atik inventaris ma’had. Dan sepertinya pelanggaran yang ia lakukan juga tak jauh dari itu.
Kemudian tepat di sampingku menyusul Afif, santri dari asrama utara ini terkenal gerang dan menakutkan. Hampir seluruh santri takut dengannya mungkin karena tubuhnya yang kekar atau mungkin wajahnya yang sangar.